Posted by: Gilang on: March 24, 2008
Suasana kota Jakarta yang semakin ramai dan padat digelumuti para pencari nafkah baik itu di pagi hari, siang hari, atau malam hari, seakan tidak mengenal lelah. Keramaian tersebut menggambarkan betapa berkembang dan maju nya standard kehidupan dan gaya hidup yang semakin global.
Meskipun hal tersebut hanyalah segelintir kecil yang terlihat dari kehidupan di Jakarta, tidak dipungkiri kebobrokan serta jarak simpang antara yang kaya dan miskin tergeletak di pinggir jalan lampu merah mengadu nasib antara kelaparan hari ini atau mati di esok hari, sebagai perwakilan kelompoknya masih merupakan mayoritas di kota ini.
Simbol sebagai kota metropolis yang dipenuhi dengan gedung-gedung bertingkat, kawasan perkantoran serta niaga, lalu lalang eksekutif muda berdasi serta mobil-mobil mewah bersandar di ibukota tercinta ini.
Salah seorang teman penulis pernah berkata saat berkunjung ke Jakarta, ”Wow, hebat sekali yah Indonesia (Jakarta), gedung-gedung bertingkat serta mobil mewah dimana-mana, tidak seperti yang saya bayangkan”. Memang benar, sebut saja merk-merk mobil mewah ternama seperti BMW, Mercedes Benz, Jaguar.Mungkin 3 dari 10 mobil yang berada di jalan-jalan utama Jakarta merupakan merk mobil tersebut.
Ambilah contoh salah satu price list mobil mewah tersebut di link berikut ini, series 7 yang tersedia di mobil berlambang dominan biru hitam tersebut bisa mencapai Rp 2.5 Milyar. ”Gila gak tuh?!?”. Gak kok, gak sama sekali, malah akan sangat mudah menemukan nya di jalan-jalan besar kota Jakarta.
Lain harga mobil, lain juga dengan biaya gaya hidup.
Contohnya dengan konser-konser musik kelas international yang mulai marak sekarang ini, demi menghibur dan memenuhi dahaga para warga kelas atas para promotor musik dan hiburan pun meng – organize serangkaian acara konser di Jakarta. Kaum kelas atas ini atau lebih dikenal dengan sebutan kaum Socialita tersebut, bahkan rela merogoh kocek Rp 5 jt s/d Rp 10 jt agar bisa tampil menonton sehingga terlihat up to date dan diakui dikalangan mereka.
Semuanya kembali ke mental individu tersebut masing-masing, bukan berarti tidak boleh mempunyai mobil mewah seharga 2 milyar ataupun pada satu hari bersenang-senang menonton konser dengan tiket seharga 10 jutaan.
Namun apakah semua kenikmatan itu masih bisa kita rasakan apabila kita melihat di kaca spion mobil kita melihat para pemulung jalanan yang mengais sesuap nasi untuk bertahan hidup hari ini atau mati kelaparan di esok hari. Anak berumur 5-10 tahun, bahkan balita, yang seharusnya menikmati pendidikan tingkat dasar, tersebar di pojok-pojok lampu merah meminta-minta uang yang belum tentu akan mereka nikmati sendiri hasilnya.
Terlihat sungguh miris memang, disatu sisi kita bangga akan mobil mewah yang berlalu-lalang, konser-konser berskala International dengan tampil nya artis-artis ternama yang mencerminkan amannya negara kita sebagai ajang perhelatan International. Namun kemewahan, kegemerlapan dan pengakuan dunia tersebut harus di bayar dengan amat sangat mahal.
Kalau melihat secara statistik angka kemiskinan di Jakarta saat ini terdapat 630.000 warga miskin di Jakarta, meningkat dari 560.000 pada tahun 2005 lalu.
yonna, maksud loe gw ya, rendah hati dan menyayangi orang miskin? haha, becanda. gw juga kadang agak bingung ya, Indonesia negara kaya atau miskin yaa? dosen gw di jepang waktu dateng ke Indo juga kayaknya rada bingung ngeliat segala kemewahan yang bisa ditawarkan bagi orang2 berduit, tambah lagi ama temen gw nyampe2 diajak makan di hotel mulia. mobil mewah betebaran, mall diisi barang2 bermerk mahal dan adaaa aja pengunjung yang membeli di sana, orang2 tertentu bisa pulang balik jakarta-singapore/hongkong/malaysia dalam sehari hanya untuk shopping atau nonton konser yang diadakan di sana.
gila bener, gw sih silahkan aja kalo orang2 kayak gitu mau ngabis2in duit, cuma kok gak bisa ya nyisihin dikit buat yang gak mampu.
lang, gw udah ganti URL, tolong diupdate yah link di blogrollnya, thanks kawan.
Aku juga sebetulnya agak prihatin melihat kesenjangan yang begitu lebar. Tapi di sistem kapitalis seperti di Indonesia, hal seperti ini tidak bisa dihindari. Bagaimanapun itu adalah uang hasil kerja mereka, dan pilihan untuk bergaya adalah pilihan hidup mereka. Yang tidak bisa dibenarkan adalah ketika uang untuk foya-foya tersebut adalah hasil dari kegiatan yang tidak benar (korupsi atau kejahatan). Kalo memang orang yang menggunakan mobil mahal tersebut mendapatkannya berkat kerja keras, hal tersebut malah bisa menjadi impian bagi orang yang mau untuk bekerja keras demi masa depannya.
Nice blog you have here..
[...] (sumber: andrigilang.wordpress.com) [...]
March 25, 2008 at 6:20 am
wah setuju pak! berpenampilan mewah identik dengan kaya harta, padahal bisa aja dia dibayarin alias gratisan atau pake kartu kredit atau ngutang atau dibayarin ortunya yang kaya atau ma suaminya yang royal atau ma pacarnya yang bodoh banget mau aja bayarin konser musik kelas VIP buat pacarnya
berpenampilan sederhana bisa menurunkan gengsi dan pamor di pergaulannya, karena sederhana = miskin. well, emang kita harus menjaga kerapihan, kebersihan dan kepantasan berpakaian tapi gak berarti mewah ya?!
makanya gue salut ma orang kaya2 namun rendah hati dan menyayangi orang miskin…hidupnya pun sederhana dan gak boros
*btw, udah di Jakarta ya? tau2 ngomongin Jakarta aja, hehe