Home > International Trade > Analisis Peluang dan Tantangan Serta Langkah Pemerintah Indonesia Terhadap Implementasi Penuh ASEAN-China FTA

Analisis Peluang dan Tantangan Serta Langkah Pemerintah Indonesia Terhadap Implementasi Penuh ASEAN-China FTA

Pendahuluan

Perkembangan ekonomi dunia khususnya di bidang perdagangan internasional telah memasuki fase perkembangan perdagangan bebas. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah Free Trade Agreement (FTA) baik secara multilateral, regional, maupun bilateral. Kurang lebih secara kumulatif ter-dapat 450 FTA yang telah dinotifikasi sampai akhir tahun 2009. Sebagai contoh: (i) Di benua Amerika terdapat sebuah kerjasama MERCOSUR yaitu bentuk kerjasama regional antara Argentina, Brazil, Paraguay, dan Uruguay; (ii) Di benua Eropa terdapat kerjasama ekonomi yang lebih luas dengan terbentuknya sebuah kawasan ekonomi yaitu European Union (EU); (iii) dan Association of South East Asian Nation (ASEAN) di kawasan Asia tenggara.

ASEAN yang merupakan bentuk kerjasama regional merupakan bentuk kekuatan baru di benua Asia, karena menjadi salah satu kawasan dengan jumlah potensi pasar ter-besar di dunia. Hal ini tentunya menarik minat negara-negara lain yang ingin me-ngembangkan potensi kerjasama mereka di wilayah Asia. Dengan terwujudnya bentuk kerjasama ASEAN+1, ASEAN+3, maupun ASEAN+6.

Terlebih lagi rencana terbesar ASEAN yang akan membentuk ASEAN Economic Community (AEC) yang membawa kerjasama ekonomi ke arah yang lebih luas yaitu dalam satu kerangka komunitas ASEAN. Salah satu negara besar yang menunjukan komitmen kerjasamanya sebagai mitra ASEAN adalah negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT), yang secara konkrit diimplementasikan dalam Perjanjian Kerjasama Perdagangan Bebas antara ASEAN dengan RRT.

Latar Belakang ACFTA

Pada tahun 1991 para pemimpin negara anggota ASEAN sepakat untuk membentuk kawasan perdagangan bebas ASEAN. Barulah kemudian pada tahun 1996 RRT secara resmi menjadi salah satu dialog partner sekaligus mitra strategis bagi ASEAN, kemudian pada bulan Nopember tahun 2000 bertepatan dengan KTT ASEAN-RRT, seluruh Kepala Negara menyepakati gagasan pembentukan ACFTA yang dilanjutkan dengan pembentu-kan ASEAN – RRT Economic Expert Group pada bulan Maret 2001.

Kerjasama dengan RRT tidak dipungkiri merupakan potensi pengembangan pasar yang sangat besar bagi kurang lebih 1.3 milyar penduduk RRT yang merupakan potensi market di Negara dengan populasi terpadat di dunia. Potensi sebagai FTA terbesar didunia secara populasi dan terbesar ketiga didunia secara ekonomi tersebut membuat kepala Negara sepakat menandatangani Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation between ASEAN and the PRC pada bulan Nopember tahun 2002, dalam hal ini Republik Indonesia diwakili oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.

Selama 2 (dua) tahun perundingan berjalan akhirnya kesepakatan ACFTA pun disepakati dan ditandai dengan penandatangan Agreement on Trade in Goods pada bulan Nopember tahun 2004, Indonesia pada saat itu diwakili oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

Didalam perjanjian barang yang disepakati terdapat beberapa tahapan skema penurunan tariff yang meliputi:

A. Tahap I

Early Harvest Program (EHP)

Chapter 01 sampai dengan Chapter 08 yaitu: Binatang hidup, Ikan, Dairy product, Tumbuhan, Sayuran, dan buah-buahan.

Kesepakatan Bilateral (produk spesifik) antara lain kopi, Minyak Kelapa/CPO, Coklat,barang dari karet, dan perabotan

Tarif akan menjadi 0% pada tahun 2006

B. Tahap II

Normal Track I dan II (2006-2010)

Normal Track I Tarif akan menjadi 0% pada tahun 2010 (dari 2009-2010 tahap terakhir dari 5% menjadi 0%).

Normal Track II Tarif akan menjadi 0% pada tahun 2012.

C. Tahap III

Sensitive / Highly Sensitive List

Sensitive List

(a) Tahun 2012 = max 20% ;

(b) Pengurangan menjadi 0-5% pada tahun 2018. Dengan 304 Produk (HS 6 digit) antara lain Barang Jadi Kulit: tas, dompet; Alas kaki: Sepatu, Casual, Kulit; Kacamata; Alat Musik: Tiup, petik, gesek; Mainan: Boneka; Alat Olah Raga; Alat Tulis; Besi dan Baja; Spare part; Alat angkut; Glokasida dan Alkaloid Nabati; Senyawa Organik; Antibiotik; Kaca; Barang-barang Plastik.

Highly Sensitive List

Tahun 2015 tarifnya maksimum 50% .Dengan 47 Produk (HS 6 digit), yang antara lain terdiri dari Produk Pertanian, seperti Beras, Gula, Jagung dan Kedelai; Produk Industri Tekstil dan produk Tekstil (ITPT); Produk Otomotif; Produk Ceramic Tableware.

IMPLEMENTASI PENUH ACFTA

Pada 1 Januari 2010, perjanjian ACFTA secara penuh diimplementasikan, tahun ini bertepatan dengan perayaan 60 tahun hubungan kerjasama antara Indonesia dengan RRT yang merupakan tonggak bersejarah dan menggambarkan betapa eratnya hubungan antar kedua Negara.

Dasar kemitraan strategis RI-RRT terselenggara karena dilatarbelakangi oleh kesamaan budaya dan kepentingan antar kedua negara. RRT merupakan Negara Asia yang besar pengaruhnya secara global baik dari segi politik maupun ekonomi, terlebih lagi Indonesia bagi RRT adalah mitra strategis yang patut diperhitungkan mengingat menjadi salah satu Negara di Asia yang mampu tumbuh secara positif di tengah-tengah krisis ekonomi global.

Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk memupuk dan memperkuat kemitraan dengan RRT yang didasarkan pada prinsip-prinsip saling menghargai dan memahami.  Hal ini tercermin dalam Implementasi kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) yang mulai berlaku pada 1 Januari 2010.

Berbagai pendapat pro dan kontra mengenai ASEAN-China FTA telah sering bermunculan di publik beberapa bulan terakhir ini. Sebagian pihak berpendapat bahwa sejumlah sektor di Tanah Air belum siap menghadapi pemberlakuan penuh ASEAN-China FTA mulai 1 Januari 2010, sebagian lainnya mengatakan perdagangan bebas merupakan tahapan dalam era globalisasi yang mau tidak mau kita pasti harus menghadapinya.

Pihak Industri dalam negeri mengajukan keberatan dan concern mereka dan menuntut pemerintah agar menunda pemberlakuan ACFTA, dikarenakan apabila kerjasama ini tetap dilaksanakan mereka akan kalah bersaing dengan produk asal negeri tiongkok tersebut dari segi harga yang lebih murah dibandingkan produk dalam negeri.

Hal ini akan berdampak pada penutupan sejumlah pabrik yang secara langsung terjadi pemutusan hubungan kerja yang meningkatkan jumlah pengangguran dan dampak yang lebih buruk adalah krisis sosial yang berkepanjangan.

Namun, beberapa pihak yang pro terhadap pemberlakuan ACFTA melihat hal ini dari sudut pandang yang berbeda. Faktor lemahnya daya saing dan kurangnya supporting infrastruktur seperti energi, transportasi maupun logistik, adalah faktor utama industri tersebut kalah bersaing dengan produk-produk asal RRT.

PELUANG DAN TANTANGAN

Ditinjau dari neraca perdagangan antara Indonesia dan RRT selama periode 1999-2007 Indonesia mencatat surplus perdagangan dengan nilai 1.1 milyar pada akhir tahun 2007. Namun dua tahun berturut-turut terjadi defisit perdagangan masing-masing sebesar 3.6 milyar dan 2.5 milyar pada tahun 2008 dan 2009. Dengan nilai defisit perdagangan pada tahun 2009 yang menurun dibanding tahun 2008.

Defisit yang muncul pada kedua tahun tersebut apabila ditinjau dari komposisi impor Indonesia dari RRT jumlah Impor barang modal dan bahan baku penolong dari RRT meningkat pesat dengan pertumbuhan rata-rata tahunan masing-masing sebesar 51,4% dan 26,0%. Hal ini merupakan indikasi bahwa terjadi added value atau proses produksi terhadap kebutuhan industri domestik, yang tentunya menghasilkan hasil produk yang lebih murah dan efisien.

Selain itu ditinjau dari struktur ekspor non-migas menurut negara tujuan peranan RRT sebagai negara tujuan ekspor semakin meningkat dibandingkan dominasi pangsa ekspor ke uni eropa, amerika serikat, dan jepang. Hal ini menggambarkan diversifikasi pasar tujuan ekspor ketika krisis ekonomi global melanda amerika serikat dan wilayah uni eropa, yang mampu menopang kondisi perekonomian Indonesia di teritori per-tumbuhan positif.

Dengan terbuka luasnya pasar RRT, dimana hampir 80% lebih tarif yang menggunakan skema ACFTA telah mencapai zero percent hal ini membuka peluang baik dari segi penetrasi pasar produk Indonesia ke RRT, maupun terbuka lebarnya sumber bahan baku (material) yang dibutuhkan sektor industri dalam negeri sehingga dapat bersaing secara kompetitif, mengingat Indonesia bukanlah negara tujuan ekspor ataupun importir utama bagi RRT. Dari segi investasi ataupun penanaman modal hal ini membawa pengaruh yang cukup baik, mengingat kebijakan pemerintah RRT yang berencana merestrukturisasi perekonomian mereka dengan melakukan ekspansi dan investasi di luar negeri. Hal ini membawa Indonesia sebagai potensial market yang dapat menarik investor RRT untuk membuka perusahaan sebagai basis produksi dan menanamkan modal mereka di Indonesia.

Tantangan terberat Indonesia sebenarnya lebih kepada faktor di dalam negeri diantaranya, pembenahan sektor pendukung industri dan pertanian seperti kesiapan energi, kualitas tenaga kerja, sistem perbankan baik dari segi suku bunga pinjaman, pembiayaan dan lain-lain, agar dapat mendorong pertumbuhan industri.

Berikutnya perlu memperbaiki sistem logistik nasional yang memungkinkan pergerakan barang, modal dan tenaga kerja agar semakin efisien di berbagai sektor. Kemudian peningkatan pengawasan dibatas perdagang-an Indonesia sehingga dapat menghalau serbuan produk illegal.

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalaha peningkatan pengamanan pasar diantaranya dengan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang didukung kesiapan baik secara infrastruktur laboratorium maupun sumber daya manusia yang kompeten. Serta  bantuan ataupun program pembinaan dan peningkatan mutu produk, yang dapat mengungguli kualitas produk luar negeri.

LANGKAH-LANGKAH PEMERINTAH

Pemerintah menindaklanjuti permasalahan yang ada dengan melakukan analisis terhadap sektor industri yang terancam dengan pemberlakuan ACFTA melalui metode analisis Revealed Comparative Advantage dan indikator makroekonomi lainnya maka muncul 228 Tarif Line dari 12 sektor yaitu sektor Industri besi dan baja, tekstil dan produk tekstil, mesin, elektronik, Kimia anorganik, petrokimia, furniture, kosmetik, jamu, alas kaki, produk industri kecil, dan sektor industri maritim. Sektor-sektor tersebut dirasakan akan mengalami dampak pelemahan apabila ACFTA tetap diimplementasikan secara penuh tanpa penundaan.

Oleh karena itu, berbagai langkah telah ditempuh Pemerintah sebagai upaya menyikapi pemberlakuan penuh ASEAN-China FTA. Diantaranya mengirimkan surat kepada Sekretaris Jenderal ASEAN pada tanggal 31 Desember 2009 yang menyatakan bahwa Indonesia tetap pada komitmennya, namun terdapat beberapa sektor yang bermasalah, untuk itu ingin melakukan pembahasan. Kemudian mengingat permasalahan yang dihadapi bersifat lintas sektor, maka dibawah koordinasi Kementerian Koordinator Perekonomian telah dibentuk Tim Koordinasi Penanggulangan Hambatan Perdagangan dan Industri pada tanggal yang sama untuk melakukan pembahasan bersama berbagai usaha di tanah Air.

Pembahasan sektoral ini bertujuan untuk memetakan kondisi masing-masing sektor secara akurat, mengidentifikasi permasalahan secara jelas, dan menyusun rekomendasi kebijakan yang tepat untuk mengatasi masalah yang dihadapi sektor yang bersangkutan. Tim teknis yang dibentuk fokus kepada penguatan daya saing global, pengamanan pasar domestik, serta penguatan ekspor.

1.    Penguatan daya saing global

Upaya dalam penguatan daya saing global dilakukan dari sisi

(1) isu domestik yang meliputi :

  • Penataan lahan dan kawasan industri;
  • Pembenahan  infrastruktur dan energi;
  • Pemberian insentif (pajak maupun non pajak lainnya);
  • Membangun kawasan ekonomi khusus (KEK);
  • Perluasan akses pembiayaan dan pengurangan biaya bunga (KUR, Kredit  Ketahanan Pangan dan Energi, modal ventura, keuangan syariah, anjak piutang, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, dsb);
  • Pembenahan sistem logistik;
  • Perbaikan pelayanan publik (NSW, PTSP/SPIPISE dsb) Penyederhanaan peraturan;
  • Peningkatan kapasitas ketenaga- kerjaan.

(2)    pengawasan di border yang meliputi:

  • Peningkatan pengawasan ke-tentuan impor dan ekspor dalam pelaksanaan FTA;
  • Menerapkan Early Warning System untuk pemantauan dini terhadap kemungkinan terjadi-nya lonjakan impor;
  • Pengetatan pengawasan peng-gunaan Surat Keterangan Asal barang (SKA) dari Negara Negara mitra FTA;
  • Pengawasan awal terhadap kepatuhan SNI, Label, Ingridien, kadaluarsa, kesehatan, lingkung-an, security dsb;
  • Penerapan instrumen perda-gangan yang diperbolehkan WTO (safeguard measures) terhadap industry yang mengalami ke-rugian yang serius (seriously injury) akibat tekanan impor (import surges);
  • Penerapan instrumen anti dumping dan countervailing duties atas importasi yang unfair.

2.    Pengamanan pasar domestik

  • Peredaran barang di pasar Lokal
  • Task Force pengawasan peredaran barang yang tidak sesuai dengan ketentuan perlindungan konsumen dan industri
  • Kewajiban penggunaan label dan manual berbahasa Indonesia
  • Promosi penggunaan produksi dalam negeri
  • Mengawasi efektifitas promosi penggunaan produksi dalam negeri (Inpres No 2 tahun 2009)
  • Mengalakkan program 100% Cinta Indonesia dan Industri Kreatif.

3.        Penguatan ekspor

  • Mengoptimalkan peluang pasar RRT dan ASEAN
  • Penguatan peran perwakilan luar negeri (ATDAG/TPC)
  • Promosi Pariwisata, perdagangan dan Investasi (TTI)
  • Penanggulangan masalah dan kasus ekspor,
  • Pengawasan SKA Indonesia
  • Peningkatan peran LPEI dalam mendukung pembiayaan ekspor

Usaha-usaha yang dilakukan tersebut menunjukan bukti keseriusan pemerintah dalam menghadapi persaingan pasar bebas tidak hanya dengan RRT namun dengan negara mitra dagang lainnya yang mempunyai perjanjian FTA dengan pemerintah RI.

KESIMPULAN DAN SARAN

Aksi dan tindakan dalam menyikapi peluang dan tantangan terkait menghadapi persaingan global merupakan kewajiban seluruh Stakeholder baik oleh Pemerintah, Pelaku usaha, Akademisi, maupun masyarakat umum. Seluruhnya diharapkan dapat saling mendukung dan mengutamakan kepentingan bersama dan mecoba melihat dari persepsi yang lebih luas sehingga membawa dampak yang lebih baik dalam menanggani masalah persaingan perdagang-an bebas yang tidak dapat dihindari bagi kepentingan nasional.

About these ads
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: