Home > My Story > Menteri oh Menteri

Menteri oh Menteri

Saya baru saja bangun jam 1 siang, gara-gara semalam tidur terlalu pagi. Dering telepon berbunyi, “lang lo dimana? ada kerjaan gak? kalau gak ada lo kesini aja” tanpa babibu temen saya ini dengan semangatnya berbicara. “Ada apa emangnya?” saya bertanya-tanya. “Pokok nya kesini aja, ada konferensi international PPI, kemarin banyak menteri yang datang” sahut dia. “Jangan lupa pakai baju resmi yah” tambahnya.

Bergegas saya mandi untuk siap-siap ke John Niland Scientia building nama tempat konferensi ini diadakan di kampus, setiba nya disana saya melihat beberapa anak muda Indonesia berpakaian jas lengkap sibuk mondar-mandir “Emm mungkin ini seksi acara nya kali yah?” dalam hati. Salah satu dari mereka seperti menginstrusikan apa yang harus dikerjakan.

Setelah bertemu dengan teman saya, dia mencoba menjelaskan acara ini, ternyata ini adalah pertemuan rutin tingkat Internasional Persatuan Pelajar Indonesia yang kebetulan tuan rumahnya kali ini UNSW, spesial nya lagi ternyata key note speaker nya tokoh-tokoh penting di Indonesia saat ini, yup siapa lagi kalau bukan para menteri. Kehadiran mereka disini karena bertepatan dengan penyelenggaraan APEC dimana Australia dijadikan tuan rumah.

Berikut daftar beberapa nama-nama menteri yang hadir pada konferensi tersebut:

1. Menteri Luar Negeri : Dr. Hassan Wirajuda, SH, MALD.LLM.

2. Menteri Perdagangan : Dr. Mari Elka Pangestu.

3. Menneg Pemuda dan Olahraga : Adhiyaksa Dault, SH, Msi.

4. Menneg Lingkungan Hidup : Ir. Rachmat Witoelar

5. Sekretaris Kabinet : Ir. M. Hatta Radjasa

Mendengar nama-nama tersebut merupakan hal yang luar biasa buat saya bisa ketemu sosok-sosok hebat seperti mereka, namun saya cuma berkesempatan bertemu dengan dua tokoh diatas, yaitu Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar dan Menteri Pemuda dan Olah Raga, Adhyaksa Dault.

Kedua menteri tersebut bisa dikatakan berasal dari lingkup departemen yang berbeda, yang satu mengurusi lingkungan sedangkan yang lainnya mengurusi anak-anak muda. Saya sempat bertanya-tanya kenapa presiden SBY juga ikut membawa Rachmat Witoelar yang notabene mengurusi lingkungan hidup ke dalam konferensi APEC ini.

Terjawab sudah pertanyaan saya, ketika dalam sesi tanya jawab peserta konferensi dengan pak menteri, beliau menjelaskan bahwa peranan dia sebagai menteri lingkungan hidup dikarenakan salah satu issue yang di angkat pada kegiatan APEC ini adalah masalah global warming, dan Indonesia mempunyai peranan yang besar dikarenakan salah satu negara yang mempunyai hutan tropis terbesar ketiga di dunia, yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan lingkungan ini “Hei?” gak salah denger? apa benar itu alasan nya?😕

Yang saya tahu Indonesia sebagai donatur polusi terbesar didunia, yang saya tahu Indonesia negara berkontribusi terbesar terhadap pembakaran hutan di dunia, yang saya tau…(cukup…cukup…stop membeberkan semua kehebatan kita, Indonesia terkenal dengan adat istiadat dan keramah tamahan nya, jauh dari kesombongan, jadi berhenti membanggakan diri sendiri yah).

Ok, kita semua tahu mungkin dia salah mengartikan peranan negara kita, tapi apakah kita harus selalu mentutup-tutupi apa yang terjadi di negara kita? atau kita memang tidak pernah tahu sesuatu yang salah telah terjadi di negara kita?

Salah satu perwakilan mahasiswa dari Italia bertanya tentang penanaman hutan kembali, yang menurut saya menarik untuk disimak, kira-kira seperti ini pertanyaan nya, “Sejauh mana peranan pemerintah dalam mengajak para pihak-pihak yang berkepentingan dengan masalah lingkungan hidup menyikapi wacana dunia untuk mengatasi global warming itu sendiri? apakah akan ada incentive bagi mereka yang mendukung program ini, sebagai contoh incentive apabila mereka membantu menanam kembali hutan yang sudah rusak?”

“Great another new theory” I think, “people get money by doing something good”, kayak nya negara kita ini kalau gak ada uang nya gak akan ada masalah yang beres, tapi memang harus ada yang bisa mencoba hal ini, karena kalau tidak dalam hitungan puluhan tahun tak akan ada lagi hutan tropis di Indonesia, so its better try rather than doing nothing right?

Acara pun di akhiri dengan makan malam bersama dan panitia memberikan kesempatan kepada pak Adhyaksa Dault untuk mendendangkan sebuah lagu, karena beliau dikenal dengan suaranya yang gimana gitu. Beliau pun mengajak semua peserta konferensi bernyanyi bersama nya, beliau juga berpesan agar kegiatan konferensi Internasional ini rutin diadakan karena bertujuan positif untuk memperkuat jaringan putra-putri Indonesia secara internasional. Menteri..oh..Menteri.

Categories: My Story Tags: , ,
  1. October 21, 2007 at 3:52 pm

    Haha,menarik nih. Indonesia = negara yg berpotensi menanggulangi masalah global warming dgn hutan tropisnya yg luas justru jd salah satu negara penyumbang CO2 ke udara paling banyak. What an irony. Btw acaranya dmana nih kynya seru bgt..

  2. October 28, 2007 at 2:05 pm

    iya bener, seru kok acaranya waktu itu, salut buat Tim PPIA, kreatif banget mereka. kebetulan acaranya dikampus gw Vin.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: