Home > My Opinion > Korupsi: masalah tanpa solusi, setidaknya…

Korupsi: masalah tanpa solusi, setidaknya…

koruptorMasih ingatkah anda kondisi Indonesia pada jaman orde baru dibawah pimpinan Presiden Soeharto? Kondisi Indonesia pada saat itu boleh dibilang berada dimasa kejayaan nya, istilah Macan Asia pun layak kita sandang di bawah bendera merah putih. Perekonomian yang berjalan stabil, pembangunan infrastruktur serta prasarana yang berkembang pesat, mengambarkan betapa maju dan sejahtera nya rakyat indonesia pada masa itu.

Bertolak belakang dengan kondisi saat ini, dimana krisis ekonomi yang telak-telak menghatam bumi Indonesia, membuat kita seolah-olah bagaikan macan tanpa taring. Nafas yang terhengap-hengap tatkala tingkat Inflasi yang terus meningkat, nilai mata uang rupiah yang diobral +- Rp 10,000 /USD (pada saat itu), Indonesia bagaikan pasien di ruang gawat darurat. Dengan donor-donor darah (IMF) yang justru menginginkan kematian kita.

Namun ada hal yang masih tetap terjadi di dua era tersebut bahkan terjadi sebelumnya, sekarang dan (mungkin) akan tetap terjadi di masa mendatang, yaitu korupsi, dimana istilah korupsi merupakan hal yang jarang kita dengar di era order baru, namun tiba-tiba semua orang mengembar-gemborkan hal tersebut di era reformasi, seakan-akan kata tabu itu akhir nya bisa dengan bebas dan lepas diucapkan, rasanya seperti hal yang sudah tidak istimewa lagi.

Saya membagi korupsi tersebut menjadi dua tipe karakteristik yang berbeda, yaitu yang terjadi di jaman order baru adalah korupsi yang membawa berkah, para pejabat-pejabat tingkat atas pada masa tersebut bagaikan koruptor yang tahu akan aturan, dimana tindak korupsi yang mereka lakukan (walaupun negatif) masih bisa dikatakan berbudaya, mengingat mereka masih sadar diri dalam melakukan korupsi, setidaknya kondisi masyarakat pada saat tersebut secara keseluruhan dalam keadaan yang sejahtera, (bisa dibilang) aman dan sentosa. Ditambah peranan Indonesia dalam kancah Internasional (bisa dikatakan) memegang peranan yang cukup penting, dibanding negara Asia lainnya seperti Malaysia, Singapore, maupun Thailand.

Sebaliknya, dikala euphoria reformasi masih terasa hangat, para koruptor dapat dikatakan semakin tidak berbudaya, sudah jelas kondisi negara dalam keadaan susah dan sakit parah, namun reformasi dijadikan aji mumpung, dimana kondisi baru yang bebas megeluarkan pendapat, membuat mereka lupa daratan dan posisi sebelumnya berada, dengan terbuka dan tanpa mengindahkan aturan, korupsi malah semakin menjadi-jadi. Hal ini bisa dirasakan sejak pergantian presiden dari era Megawati sampai SBY sekarang ini.

Perubahan struktur pemerintahan menjadi otonomi daerah, yang memindahkan kekuasaan pengambilan keputusan dari pusat ke daerah, menjadi serba salah, justru tindak korupsi semakin tersebar di aparat-aparat pemerintahan di daerah tersebut, yang semakin sulit untuk ditindak lanjuti dan diberantas. KPK sebagai salah satu badan yang memonitor masalah ini, akhir-akhir nya hanyalah menjadi musuh dalam selimut dikalangan pemerintahan. Artikel ini tidak dimaksudkan tidak untuk mengatakan bahwa korupsi yang terjadi di kedua era tersebut ada yang baik dan tidak, setidaknya bisa menyadarkan para koruptor, agar mereka sadar walaupun mereka (tetap) korupsi, setidaknya masih peduli dan memperhatikan kondisi rakyat yang sudah cukup susah dan menderita ini. Karena korupsi adalah masalah tanpa solusi, tapi setidaknya…

  1. November 13, 2007 at 6:54 am

    kalo jaman dulu, cara korupsi dilakukan dengan halus dan rapi….kayak film action aja, persisnya kayak film Oceans Sequels (Eleven, Twelve, Thirteen) dimana pencurian dilakukan dgn rencana matang, masing-masing bagian dilakukan oleh ahlinya dan waktu bagi-bagi hasil juga gak bokis, tiap orang dapat bagian yang udah disepakati.

    malah sekarang korupsi dilakukan secara blak-blakan…pertanda kiamat apa ya? kalo perbuatan maksiat dilakukan terang-terangan termasuk tanda kiamat. hihihi sejak ada otoda, korupsi semakin merata malah korupsi di daerah semakin menggila, pungutan baru dan legal terus dikenakan di hampir semua lapisan masyarakat…giling!!!padahal cuma tindakan preman tukang palak yang tindakannya disahkan dalam peraturan daerah. ckckck.

    mungkin harus diterapkan peraturan pemberantasan korupsi ala Cina. Menyediakan 100 peti mati, 99 untuk para koruptor dan 1 untuk Presiden Hu (kalo gak salah) jika dia korupsi juga. eksekusi koruptor dilakukan di lapangan terbuka dan bisa disaksikan semua rakyat. Mau dihukum aja ngeper banget palagi dihina di depan rakyat…wah asli kapok baru tuh?!

    *Gilang masih cari-cari warna theme ya…tapi untuk artikel dan komentar jangan yang gelap ya…sakit mata ntar:mrgreen:

  2. November 14, 2007 at 12:24 pm

    korupsi memang penyakit akut dimana-mana…
    disini juga…

  3. Arief
    December 14, 2007 at 5:40 pm

    Mantan PM China, Zhu Rong Ji:
    ”Berikan kepada saya seratus peti mati, sembilan puluh
    sembilan untuk koruptor, satu untuk saya jika saya melakukan hal yang sama.”

    Pejabat Indonesia, Mr. XXX:
    ”Berikan kepada saya seratus peti uang, sembilan puluh
    sembilan untuk sesama teman koruptor, satu untuk saya karena saya akan melakukan hal yang sama.”

  4. Dede
    March 24, 2008 at 10:41 am

    Ya,,Allah berikanlah kpd para koruptor itu balasan yg setimpal dgn perbuatannya…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: