Home > ASEAN, International Issues, International Trade > Arti Penting Keketuaan Indonesia di ASEAN 2011 dalam Bidang Perdagangan

Arti Penting Keketuaan Indonesia di ASEAN 2011 dalam Bidang Perdagangan

ASEAN Charter atau lebih dikenal dengan Piagam ASEAN telah ditandatangani oleh 10 (sepuluh) Kepala Negara / Pemerintahan negara anggota ASEAN pada tanggal 20 November 2007 ketika KTT ke–13 di Singapura, dan mulai diberlakukan secara efektif tanggal 15 Desember 2008. Piagam ASEAN merupakan salah satu dokumen yang mengubah ASEAN dari sebatas asosiasi di kawasan Asia Tenggara menjadi organisasi yang berdasarkan hukum dan berorientasi pada kepentingan rakyat.

Implementasi Piagam ASEAN sangat penting dalam membawa ASEAN lebih dekat kepada masyarakat. Inti dari Piagam ASEAN tersebut utamanya adalah bagi pembentukan 3 pilar ASEAN Community yaitu Komunitas Politik dan Keamanan (APSC), Komunitas Ekonomi (AEC), dan Komunitas Sosial dan Budaya (ASCC). Hal ini tentunya, mendorong kepada perubahan mekanisme kerja dan struktur organisasi ASEAN yang lebih jelas dan efektif.

Oleh karena itu, pada ASEAN Charter pasal 31 yang mengatur mengenai Chairmanship of ASEAN atau Keketuaan ASEAN dijelaskan bahwa pemilihan keketuaan ASEAN dilakukan secara rotasi berdasarkan alphabet dalam bahasa inggris dari nama negara anggota ASEAN. Dimana negara anggota yang terpilih menjadi ketua diharapkan dapat menyelenggarakan pertemuan ASEAN Summit and related summits, the ASEAN Coordinating Council, the three ASEAN Community Councils, relevant ASEAN Sectoral Ministerial Bodies and senior officials, dan the Committee of Permanent Representatives.1

Sepanjang tahun 2010, Vietnam merupakan Chairman ASEAN dengan bertindak sebagai tuan rumah bagi seluruh penyelenggaraan pertemuan tersebut. Apabila berdasarkan ketentuan rotasi alphabet maka negara selanjutnya yang diharapkan menjadi Chairman ASEAN adalah kembali ke urutan awal yaitu Brunei Darussalam. Namun pemerintah Indonesia mengharapkan hal yang berbeda mengingat di negara ini pada tahun 2013 mendatang akan berlangsung 2 (dua) perhelatan besar dimana Indonesia bertindak sebagai host country yaitu ASEAN dan forum APEC.

Oleh karena itu Indonesia mengusulkan untuk dapat menjadi ketua ASEAN pada tahun 2011 menggantikan Brunei Darussalam, yang kemudian pada tanggal 9 April 2010 bertepatan dengan 16th ASEAN Summit di Ha Noi, Viet Nam seluruh negara anggota ASEAN menyetujui usul tersebut.

Indonesia sebagai salah satu The Founding of ASEAN tentunya mempunyai pandangan nilai historikal tersendiri bagi kemajuan dan pencapaian organisasi ini sebagai bentuk kerja sama antar negara di kawasan Asia Tenggara yang dapat memakmurkan bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, disetujuinya Keketuaan Indonesia di ASEAN 2011 tentunya memberi tanggung jawab dan harus disertai dengan langkah serta persiapan yang matang baik dari segi penyelenggaraan, substansi, koordinasi antar instansi, logistik, maupun peran Indonesia untuk mendukung pencapaian tujuan dari ASEAN itu sendiri.

Kinerja Perdagangan ASEAN
Sebagai salah satu bentuk kerjasama di kawasan Asia, ASEAN mempunyai pengaruh politik dan perdagangan yang cukup besar. Hal ini dapat terlihat dari total populasi penduduk seluruh negara anggota ASEAN sebesar 583,5 milyar orang, dan total Produk Domestik Bruto sebesar US$ 1,507 milyar, salah satu yang terbesar dibandingkan Australia, New Zealand, India, maupun Korea Selatan.2

Ditinjau dari nilai ekspor dan impor pada periode Jan-Agustus 2010 (Tabel.1), seluruh negara anggota ASEAN mencatat total ekspor sebesar US$ 17.293,0 milyar cukup besar dibandingkan nilai ekspor Uni Eropa, RRT dan Amerika Serikat yang hanya mencatat sebesar US$ 10.784,6 milyar, US$ 9.376,9 milyar dan US$ 8.668,5 milyar. Sedangkan untuk nilai impor ASEAN mencapai US$ 15.769,4 milyar, sedangkan Uni Eropa hanya sebesar US$ 6.226,3 milyar, RRT sebesar US$ 7.856,8 milyar dan Amerika Serikat sebesar US$ 6.312,5 milyar.

Negara Ekspor Impor
ASEAN 17.293,0 15.769,4
Uni Eropa 10.784,6 6.226,3
RRT 9.376,9 7.856,8
Amerika Serikat 8.668,5 6.312,5

Hal ini tentunya menjadikan ASEAN sebagai salah satu driving force bagi sumber pertumbuhan dikawasan Asia bahkan sebuah building bloc bagi perdagangan dunia yang dapat menciptakan skala ekonomi yang lebih efisien. Dan hal ini juga secara tidak langsung diharapkan akan berdampak secara kepada semakin meningkatnya tingkat kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia sebagai salah satu bagian dari ASEAN.

Kinerja Perdagangan Indonesia dengan ASEAN
Perkembangan perdagangan Indonesia dengan ASEAN menggambarkan nilai perdagangan yang cenderung defisit yaitu sebesar US$ 1,2 milyar pada tahun 2005 dan meningkat menjadi US$ 2,9 milyar pada tahun 2010 (periode jan-juli).

Apabila kita analisa lebih mendalam kecenderungan defisit perdagangan kita dengan negara-negara ASEAN lebih pada kelompok produk minyak dan gas, namun lain hal nya dengan produk non-migas yang mencerminkan hasil sebaliknya yaitu surplus sebesar US$ 6,7 milyar pada tahun 2005 dan surplus sebesar US$ 1,2 milyar pada tahun 2010 (periode jan-juli).

Dengan 5 (lima) komoditas utama ekspor non-migas yaitu produk (1) Electrical, electronic equipment (US$ 2.3 juta); (2) Machinery, boilers (US$ 2 juta); (3) Animal,vegetable fats and oils, cleavage products (US$ 1.7 juta); (4) Tin and articles thereof (US$ 1.1 juta); (5) Copper and articles thereof (US$ 1 juta).

Negara Tujuan Ekspor Utama Indonesia
Berdasarkan data yang diperoleh, pada tahun 2010 periode januari-juli konsentrasi lima pasar ekspor non migas utama Indonesia adalah ke Jepang, Amerika Serikat, RRT, Singapura dan India.

No Negara Tujuan Ekspor Utama Indonesia Periode Jan-Juli 2010
1 JEPANG 9.009,7
2 AMERIKA SERIKAT 7.523,6
3 REP.RAKYAT CINA 6.974,6
4 SINGAPURA 5.356,5
5 INDIA 4.945,5

Serta asal negara impor utama ke Indonesia secara berturut-turut berasal dari RRT, Jepang, Singapura, Amerika Serikat, dan Thailand.

No Asal Negara Impor Utama ke Indonesia Periode Jan-Juli 2010
1 REP.RAKYAT CINA 10.966,9
2 JEPANG 9.335,6
3 SINGAPURA 5.771,6
4 AMERIKA SERIKAT 5.341,1
5 THAILAND 4.386,1

Perbandingan Empat Negara: Jerman, AS, India dan Indonesia.

Berdasarkan salah satu paparan yang dilakukan oleh Prof. Aleksius Jemadu, Ph.D, Guru Besar Politik Internasional FISIP HI UPH, beliau membandingkan 4 (empat) negara besar di kerja sama negara-negara dalam sebuah kawasan yang mereka terlibat didalamnya.

Negara-negara tersebut adalah Jerman dengan Uni Eropa, Amerika Serikat dengan NAFTA, India di dalam SAARC, dan Indonesia dengan ASEAN. Keempat negara tersebut memainkan peranan sebagai regional leadership. Jerman dan Amerika sangat gigih dalam mempromosikan kerja sama regional karena keunggulan teknologi dan daya saing ekonomi tinggi yang mereka miliki, sehingga manfaat dari kerjasama kawasan yang mereka lakukan memberikan dampak dan pengaruh positif atas keunggulan komparatif yang dimiliki.

India, berbeda dengan Jerman dan Amerika Serikat, karena faktor konfliknya dengan Pakistan lebih mengandalkan national capability dariapada kemampuan collective regional.Lain pula halnya dengan Indonesia, dimana ASEAN menempati posisi sentral dalam seluruh bangunan kebijakan luar negeri RI. Namun secara ekonomi, ASEAN bukan mitra dagang terbesar RI dan intra-regional trade ASEAN lebih kecil daripada extra-regional trade dengan Jepang, China, AS dan Uni Eropa. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya sesama negara-negara ASEAN masih bersaing untuk sejumlah produk/komoditas yang sama (palm oil, electronics, dan automotive industry).

Oleh karena itu disinilah perlunya Indonesia melakukan penilaian kembali mengenai langkah-langkah dan persiapan yang perlu dilakukan terkait filosofi dari keberadaan dan peran ASEAN itu sendiri bagi Indonesia.

Keketuaan ASEAN yang akan dipegang oleh Indonesia sebagai salah satu big brother di ASEAN bagi negara-negara ASEAN lainnya bahkan negara mitra dagang ASEAN tentunya mengharapkan langkah-langkah konkrit Indonesia untuk take lead atas transformasi ASEAN dalam hal ini menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC) 2015.

Menuju ASEAN Economic Community 2015
Berbicara mengenai perkembangan pencapaian menuju AEC 2015 selama ini selalu dimonitor melalui AEC Scorecard, dimana Indonesia selama periode 2010, masih merupakan negara dengan realisasi pencapaian AEC Scorecard terendah dibandingkan 9 negara anggota ASEAN lainnya termasuk Vietnam selaku ASEAN Chairman 2010.

Hal tersebut diataslah yang tentunya sangat perlu diperbaiki mengingat Indonesia menjadi ketua ASEAN pada 2011, hal ini tentunya bukan kabar baik apabila dalam masa keketuaannya di ASEAN, ketua ASEAN sendiri dalam hal ini Indonesia menjadi yang terendah pencapaian AEC Scorecard-nya dibandingkan negara ASEAN lainnya.

Tentunya hal ini terkendala dibeberapa hal secara teknis seperti misalnya ratifikasi beberapa perjanjian kerjasama dengan permasalahan transposisi tarif yaitu ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP) dan ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area.

Selain hal tersebut yang tidak kalah penting faktor pendukung yang perlu dipersiapkan adalah langkah dalam mewujudkan ASEAN Single Window, dimana masing-masing negara ASEAN diharapkan sudah mulai mengimplementasikan National Single Window sebagai upaya harmonisasi dan simplifikasi elemen-elemen dalam mewujudkan single market and production base.

Secara nasional hal ini tentunya akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap daya saing dan iklim investasi yang berdampak pada akselerasi kemajuan ekonomi serta efisiensi dan keuntungan secara berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan dimana, arus barang ekspor dan impor akan semakin cepat; proses produksi lancar dan terprediksi dengan baik; biaya transaksi akan semakin menurun; pelayanan yang semakin transparan, cepat dan mudah dijangkau.

Peran Keketuaan Indonesia di ASEAN tahun 2011 tentunya sangatlah besar, dimana tuntutan dan harapan akan terobosan dan langkah konkrit yang dihasilkan dapat tetap terwujud. Mengingat pencapaian dari AEC selama tahun 2010-2011 merupakan tahap penting agar dapat mewujudkan AEC tetap on-schedule hingga akhir tahun 2015, maka kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah tidaklah dapat dipisahkan disertai dengan dukungan oleh seluruh lapisan masyarakat, sehingga ASEAN tidak sebatas pertemuan-pertemuan formal antar pejabat pemerintah namun, dapat menjadi salah satu elemen penting yang tertanam di masyarakat Indonesia.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: